Sabtu, 22 November 2014

Manusia Dan Keadilan

 

KATA PENGANTAR

        Puji dan syukur saya limpahkan kehadirat Allah yang Maha Pemurah, berkat karunianya saya selesai menyusun makalah ini dengan judul Manusia dan Keadilan. tujuan makalah ini supaya mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang berbagai macam keadilan, keadilan sosial, kejujuran, kecurangan, dan kenyataan yang ada dalam kehidupan serta kaitannya dengan manusia.

       Tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Sudjiran sebagai dosen mata kuliah Ilmu Budaya Dasar atas arahan dan bimbingannya, juga kepada seluruh rekan-rekan mahasisiwa yang ikut menyumbangkan aspirasinya dalam penyusunan makalah ini. Saya berharap semoga makalah ini bermanfaat untuk semua kalangan dan makalah ini menjadi pemberat timbangan amal baik di akhirat.

Bekasi, 22 November 2014

 

Muhammad Abu Bakar

 

BAB I

PENDAHULUAN

        Alam semesta ini diciptakan Allah begitu sempurna. Semua terlihat seimbang tanpa cacat. coba kita lihat contohnya pada langit yang menjulang tinggi, adakah tiangnya dan apakah benda-benda diluar bumi yang begitu banyak dan berbahaya bagi kehidupan manusia bisa leluasa jatuh walaupun langit itu hanya terlihat bagai gumpalan asap. Ya Maha Besar Allah atas segala yang diciptakannya, Dia lah yang Maha Pandai yang membuat itu semua seimbang. Salah satu yang membuat itu semua seimbang adalah penciptaan segala sesuatu itu berpasangan, ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada basah dan ada kering itu semua membuat alam semesta menjadi seimbang. keseimbangan inilah yang membuat kita bisa hidup di bumi ini.

        Kehidupan manusia juga butuh keseimbangan, sebab bisa dibayangkan bilamana kehidupan kita manusia tidak seimbang, berat sebelah. contoh kita butuh lahan untuk membangun rumah, kita juga butuh pepohonan untuk menghasilkan oksigen yang berguna bagi kehidupan lalu kita lebih mementingkan membuka lahan baru dengan menebang pepohonan tanpa memikirkan dampaknya, dan lihat yang terjadi musibah terjadi dimana-mana seperti banjir. Tentu semua ini membuat kehidupan tidak seimbang.

        Salah satu faktor penyeimbang kehidupan adalah keadilan, ya keadilan begitu penting untuk membuat keseimbangan kehidupan, sebab dengan keadilanlah segala sesuatu akan tepat pada tempatnya sehingga tidak ada lagi berat sebelah yang mengakibatkan bencana.

BAB II

ISI

  1.   Pengertian Keadilan

        keadilan

       Keadilan menurut Aristotcles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara ke dua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrern itu mcnyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka rnasing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama. kalau tidak sama, maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidakadilan.

       Keadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri, dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Lain lagi pendapat Socrates yang memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. 

       Menurut Socrates, keadilan tercipta bilamana warga negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan pada pemerintah, sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. 

        Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada kehannonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama. 

        Sebagai contoh, seorang karyawan yang hanya menuntut hak kenaikan upah tanpa meningkatkan hasil kerjanya tentu cenderung disebut memeras. Sebaliknya pula, seorang majikan yang terns menerus menggunakan tenaga orang lain, tanpa mempernatikan kenaikan upah dan kesejahteraannya. maka perbuatan itu menjurus kepada sifat memperbudak orang atau pegawainya. Oleh karena itu, untuk memperoleh keadilan, misalnya, kita menuntut kenaikan upah: sudah tentu kita harus berusaha meningkatkan prestasi kerja kita. Apabila kita menjadi majikan, kita harus rnemikirkan keseimbangan kerja mereka dengan upah yang diterima. 

  2.   Keadilan sosial

         Berbicara tentang keadilan, Anda tentu ingat akan dasar negara kita ialah Pancasila. Sila kelima Pancasila, berbunyi : "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." socialjustice

        Dalam ketetapan MPR RI No.Il/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan pengamalan pancasila ( ekaprasetia pancakarsa) dicantumkan ketentuan sebagai berikut : 

"Dengan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia manusia Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia".

       Selanjutnya untuk mewujudkan keadilan sosial itu, diperinci perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk, yakni : 

1. Perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. 

2. Sikap adil terhadap sesama, menjaaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain. 

3. Sikap suka memheri pertolongan kepada orang yang memerlukan

4. Sikap suka bekerja keras 

5. Sikap menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan bersama 

Asas yang menuju dan terciptanya keadilan sosial itu akan dituangkan dalam berbagai langkah dan kegiatan, antara lain mclalui delapan jalur pemerataan, yaitu :

1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan, sandang dan perumahan. 

2. Pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.

3. Pemerataan pembagian pendapataan.

4. Pemerataan kesempatan krja.

5. Pemerataan kesempatan berusaha

6. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.

7. Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air.

8. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

  3.  Berbagai Macam Keadilan

       Macam - macam keadilan adalah sebagai berikut.

        1. Keadilan legal atau keadilan moral

        Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang rnembuat dan mcnjaga kesatuannya. Dalarn suatu masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang mcnurut sifat dasamya paling cocok baginya (Tha man behind the gun). Pcndapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan, Sunoto menyebutnya keadilan legal.

        2. Keadilan Distributif

        Aristoles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are treated equally). Sebagai contoh. Ali bekerja 10 tahun dan Budi bekerja 5 tahun. Pada waktu diberikan hadiah hams dibedakan antara Ali dan Budi, yaitu perbedaan sesuai dengan lamanya bekerja. Andaikata Ali menerima Rp.100.000,- maka Budi hams menerima. Rp 50.000. Akan tetapi bila besar hadian Ali dan Budi sama,

justru hal tersebut tidak adil.

       3. Keadilan Komulatif

       Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat. 

  4.  Kejujuran

       Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. BERANI-JUJUR-HEBAT-300x300

        Pada hakekatnya jujur atau kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral yang tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa. 

       Adapun kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri karena kita melihat diri kita sendiri berhadapan dengan hal baik buruk. Disitu manusia dihadapkan kepada pilihan antara yang halal dan yang haram, yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, meskipun dapat dilakukan. Dalam hal ini kita melihat sesuatu yang spesifik atau khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada soal tentang jujur dan tidak jujur. patut dan tidak patut, adil dan tidak adil, dan sebagainya.

  5.  Kecurangan

       Kecurangan menurut jamus besar bahasa indonesia adalah perbuatan curang yaitu perbuatan tidak jujur, tidak tulus hati, dan tidak adil.

       Bermacam-maacam sebab orang melakukaan kecurangan. Ditinjau dari hubungan
manusia dengan alam sekitamya, ada empat aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan. Aspek peradaban. dan aspek teknik. Apabila keempat aspek tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum. Akan tetapi, apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecµrangan.

  6.  Perhitungan (HISAB) dan pembalasan

       Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, dan tingkah laku yang seimbang. Pembalasan Frontal dengan melakukan serangan langsung seperti kata-kata kasar bahkan perlawanan fisik Perhitungan di muka hukum dengan menaaati peraturan bersaing dimuka hukum antara yang dilaporkan dan pihak pelapor.

   7.  Pemulihan Nama Baikpemulihan nama baik

          Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak
tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tetap baik. Lebih-lebih jika ia
menjadi teladan bgai orang/tetangga disekitamya adalah suatu kebanggaan batin yang tak
temilai harganya.

         Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau
boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang
dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan ltu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul,
sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatan-perbuatan yang dihalalkan agama dan lain sebagainya.

        Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai
dengan kodrat manusia, yaitu :
a) manusia menurut sifat dasamya adalah mahluk moral
b) ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan

        Pada hakekatnya, pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala
kesalahannya bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak
sesuai dengan ahlak.

        Ahlak berasal dari bahasa Arab akhlaq bentuk jamak dari khuluq dan dari akar kata
ahlaq yang berarti penciptaan. Oleh karena itu, tingkah laku dan perbuatan manusia harus
disesuaikan dengan penciptanya sebagai manusia. Untuk itu, orang harus bertingkah laku dan berbuat sesuai dengan ahlak yang baik.

  8.  Pembalasan

        saling-memberi Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang.

        Sebagai contoh, A memberikan makanan kepada B. Di lain kesempatan B memberikan
minuman kepada A. Perbuatan tersebut merupakan perbuatan serupa, dan ini merupakan
pembalasan.

        Dalam Al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mengadakan
pembalasan. Bagi yang bertakwa kepada Tuhan diberikan pembalasan dan bagi yang mengingkari perintah Tuhanpun diberikan pembalasan dan pembalasan yang diberikanpun
pembalasan yang seimbang, yaitu siksaan di neraka.

 

BAB III

PENUTUP

        Kesimpulan yang dapat saya tarik dari makalah ini adalah Manusia dan alam semesta ini sangatlah membutuhkan keadilan, karena dengan keadilan itulah segala sesuatunya menjadi seimbang dan harmonis dan jelas sekali apabila keadilan itu sudah tidak ditegakkan atau tidak ada niscaya berantakanlah kehidupan manusia dan alam semesta ini.

        Demikian makalah ini saya tulis. semoga bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan dari makalah yang saya tulis ini jadi saya memohon maaf atas segala kekurangannya dan saya menerima segala saran dengan lapang dada demi mendapatkan perbaikan untuk masa mendatang. Terima kasih

Bekasi, 22 November 2014

 

Muhammad Abu bakar

 

BAB IV

REFERENSI

Nugroho.Widyo, Muchji.Ahmad (1994). Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Gunadarma

http://immnar.blogspot.com/2012/06/kecurangan-3.html

 

Penulis: Muhammad Abu Bakar

NPM: 17514039

Kamis, 30 Oktober 2014

Biografi James McKeen Cattell


Biografi Singkat James McKeen Cattell
A.    Biodata Tokoh
Nama                                       : James McKeen Cattell
Tempat dan tanggal lahir        : Easton, Pennsylvania, 25 Mei 1860
Kewarganegaraan                   : Amerika Serikat
Wafat                                      : Lancaster, Pennsylvania , 20 Januari 1944 (usia 83 tahun)
Bidang ilmu                            : Psikologi dan Psikometrik
Perjalanan hidup                     :
·         1860 Lahir di Easton, Pennsylvania
·         1880 Memperoleh gelar Sarjana di Lafayette Universitas
·         1880 Pergi meninggalkan Amerika ke Eropa
·         1882 Mendapat beasiswa di John Hopkins University
·         1883 Kembali ke Leipzig untuk bekerja di bawah Wilhelm Wundt ( ahli psikologi dan tokoh strukturalisme)
·         1886 Mendapat gelar Ph.D. dari Wilhelm Wundt
·         1888-1891 Profesor Psikologi di University of Pennsylvania
·         1890 Menciptakan istilah "tes mental"
·         1891 Profesor Psikologi dan Kepala Departemen di Columbia University
·         1894 Sekretaris APA ( American Psychological Association )
·         1895 Presiden APA
·         1895 Membeli Science  dari Alexander Graham Bell
·         1897 Mendirikan Psychological Review dengan James Mark Baldwin
·         1900 Science menjadi publikasi resmi dari Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Sains
·         1900 Membeli Popular Science Monthly
·         1901 Psikolog pertama yang diterima menjadi anggota National Academy of Sciences
·         1902 Presiden di New York Academy of Sciences
·         1903 Keluar dari Psychological Review
·         1906 Mulai bekerja referensi, American Men of Science & Leaders in Education
·         1915 Mendirikan sekolah dan mengadakan kegiatan sosial mingguan
·         1917 Diberhentikan dari Columbia
·         1921 Mengorganisir psikologi perusahaan atau industri
·         1924 Presiden, Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan
·         1929 Dinobatkan sebagai Presiden Kesembilan Kongres Internasional Psikologi
·         1944 Wafat

B.     Pokok Bahasan Tokoh dan Pengembangannya
James McKeen Cattell adalah psikolog yang berorientasi terhadap penggunaan metode obyektif eksperimental, pengujian mental, dan penerapan psikologi untuk bidang pendidikan, bisnis, industri, dan iklan. James McKeen Cattell adalah tokoh penting dalam studi intelegensi manusia. Pendalamannya juga pengembangannya terhadap intelegensi manusia membuatnya menemukan metode pengukuran intelegensi yang ia sebut “tes mental” dengan menggunakan 10 acuan atau ukuran. 10 macam ukuran itu adalah sebagai berikut:
1.      Dinamo meter peasure, yaitu ukuran kekuatan tangan menekan pegas yang dianggap sebagai indikator aspek psikofisiologis.
2.      Rate of movement, yaitu kecepatan gerak tangan dalam satuan waktu tertentu yang dianggap memiliki komponen mental didalamnya.
3.      Sensation areas, yaitu pengukuran jarak terkecil diantara 2 tempat yang terpisah dikulit yang masih dapat dirasakan sebagai 2 titik berbeda.
4.      Peasue caosing pain, yaitu pengukuran yang dianggap berguna dalam diaknosis terhadap penyakit saraf dan dalam mempelajari status kesadaran abnormal.
5.      Least noticabele difference in weight, yaitu pengukuran perbedaan berat yang terkecil yang masih dapat dirasakan seseorang.
6.      Reaction time for sound, yang mengukur waktu antara pemberian stimulus dengan timbulnya reaksi tercepat.
7.      Time for naming colors, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap proses yang lebih”mental”daripada waktu-reaksi yang dianggap reflektif.
8.      Bisection of a 50-cm line, yang dianggap sebagai suatu ukuran terhadap akurasi “ space judgment”.
9.      Judgment of 10second time, yang dimaksudkan sebagai ukuran akurasi dalam “time judgment” ( subyek diminta menghitung 10 detik tanpa bantuan apapun).
10.  Number of latters repeated upon once hearing, yang dimaksudkan sebagai ukuran terhadap perhatian dan ingatan( subyek diminta mengulang huruf yang sudah disebutkan 1x)

C.     Tokoh yang Paling Mempengaruhi
Selama perjalan hidupnya James McKee Cattell banyak bertemu dengan ahli psikologi baik di Amerika maupun diluar Amerika, Salah satu Ahli psikologi yang paling berkesan bagi James McKeen Cattell adalah Sir Francis Galton. James sangat terkesan dengan statistik dan kuantifikasi dalam penelitian yang digunakan oleh Galton, Dia juga mendukung beberapa ide Galton lainnya, seperti pentingnya perbedaan individu dan penerapan pengetahuan ilmiah untuk menciptakan gerakan eugenika. Dalam pembuatan acuan atau ukuran untuk tes mentalnya, James Cattell juga banyak mengambil dan meminjam konsep Galton.

D.    Foto Tokoh


E.     Referensi

Sabtu, 25 Oktober 2014

MANUSIA DAN PENDERITAAN



 MANUSIA DAN PENDERITAAN


A.      Pengertian Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta yang artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin. Penderitaan juga berarti keadaan yang menyedihkan yang harus ditanggung.
Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah rnerupakan "risiko" hidup. Tuhan rnernberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga mernberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bermakna agar rnanusia sadar untuk tidak memalingkan dariNya. Baik dalam Al Quran maupun kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang menguraikan tentang penderitaan yang dialami oleh manusia atau berisi peringatan bagi manusia akan adanya penderitaan. Tetapi umunya manusia kurang memperhatikan peringatan tersebut, sehingga manusia mengalami penderitaan.
Hal itu misalnya dalam surat Al.lnsyiqoq:6 (q) dinyatakan "rnanusia ialah mahluk  yang hidupnya penuh perjuangan. Ayat tersebut harus diartikan, bahwa manusia harus bekerja keras untuk dapat melangsungkan hidupnya. Untuk kelangsungan hidup ini manusia harus menghadapi alam (menaklukan alam), menghadapi masyarakat sckclilingnya, dan tidak boleh lupa untuk taqwa terhadap Tuhan.
Di bawah ini adalah beberapa contoh penderitaan yang mungkin sering kita lihat di lingkungan kita.
1.    Pemutusan hak kerja  : Bagi orang yang sudah berkeluarga mungkin penderitaan ini yang paling di takutkan apalagi bagi seorang ayah yang mempunyai kewajiban menafkahi keluarganya,hal ini akan berdampak buruk tidak hanya bagi sang ayah namun juga bagi keluarganya.
2.    Kehilangan orang tua : Hubungan kita dengan orang tua merupakan suatu hubungan yang unik. Oleh sebab itu pasangan diharapkan bisa memahami makna kehilangan ini. Misalnya dengan berusaha menggantikan posisinya demi mendukung pasangan. Antara lain dengan cara selalu berada di dekatnya, menjadi pendengar yang baik, dan selalu siap membantunya.
3.    Kemiskinan :  Dalam hal ini mungkin semua orang menderita mengalami kemiskinan.namun miskin disini bukan miskin melarat melainkan hidup pas-pasan.bagi sebagaian orang hidup seperti itu tidak enak namun bagi orang lain mungkin hidup seperti itu lebih baik dari pada berlimpah harta namun anggota keluarga tidak bahagia,semua di atur oleh uang,sibuk dengan tugas masing”,tidak ada komunikasi.hal itu di buktikan dengan adanya kata-kata ” makan ga makan yang penting kumpul”.
4.    Bencana   :  Tidak ada yang dapat menghindari sebuah bencana yang diberikan oleh Allah SWT. Bencana yang datang dapat menghilangkan sebagian ataupun  seluruh harta benda yang ada, bahkan dapat mengakibatkan kehilangan anggota keluarga. Trauma yang diakibatkan oleh bencana juga sulit untuk dipulihkan. Hal ini membutuhkan banyak waktu untuk seseorang kembali bangkit dan hidup normal dengan membangun kehidupannya seperti sedia kala.
B.      Siksaan
Siksaan adalah penderitaan sebagai suatu bentuk hukuman. Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rokhani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan.
Siksaan yang sifatnya psikis atau jiwa atau rohani misalnya kebimbangan, kesepian,  dan ketakutan.
Kebimbangan dialami oleh seseorang bila ia pada suatu saat tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil. Akibat dari kebimbangan seseorang berada dalam keadaan yang tidak menentu. sehingga ia merasa tersiksa dalam hidupnya saat itu.
Kesepian dialami oleh seseorang mcrupakan rasa sepi dalam dirinya sendiri atau jiwanya walaupun ia dalarn lingkungan orang ramai. Kesepian juga merupakan salah satu wujud dari siksaan yang dapat dialami oleh seseorang. Seperti halnya kebimbangan. kesepian perlu cepat diatasi agar seseorang jangan terus menerus merasakan penderitaan batin. Sebagai homo socius. seseorang perlu kawan,maka untuk mengalahkan rasa kesepian orang perlu cepat mencari kawan yang dapat diajak untuk berkomunikasi. Selain mencari kawan, seseorang juga perlu mengisi waktunya dengan suatu kesibukan, khususnya yang bersifat fisik, sehingga rasa kesepian tidak memperoleh tempat dan waktu dalam dirinya.
Ketakutan merupakan bentuk lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Bila rasa takut itu dibesar-besarkan yang tidak pada tempatnya, maka disebut sebagai phobia. Banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan, antara lain :
1.    Claustrophobia dan Agoraphobia
Claustrophobia adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup. Agoraphobia adalah ketakutan  yang disebabkan seseorang berada di tempat terbuka.
2.    Gamang
merupakan ketakutan bila seseorang di tern pat yang tinggi. Hal itu disebabkan,  karena ia takut akibat berada di tempat yang tinggi.
3.    Kegelapan
merupakan suatu ketakutan seseorang bila ia berada di tempat yang gelap. Sebab dalam pikirannya dalam kegelapan demikian akan muncul sesuatu yang ditakuti, misalnya setan atau pencuri.
4.    Kesakitan
merupakan ketakutan yang disebabkan oleh rasa sakit yang akan dialami. Hal itu disebabkan karena dalam pikirannya semuanya akan menimbulkan kesakitan.
5.    Kegagalan
merupakan ketakutan dari seseorang disebabkan karena merasa bahwa apa yang akan dijalankan mengalami kegagalan. Hal itu disebabkan trauma yang pemah dialami membuat sesorang  ketakutan kalau sampai terulang lagi.
Apa yang membuat seseorang menjadi phobia ?
Umumnya ada dua aliran tentang penyebab phobia. Ahli-ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problema psikologis yang dalam,  yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang. Sebaliknya  ahli-ahli yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu phobia adalah problemanya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli-ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena sipenderita hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus, membuat keadaan sipenderita sepuluh kali lebih parah.
  1. Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental dapat dirumuskan sebagai gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
Gejala-gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
1.    Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung .
2.    nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah.
Tahap-taham gangguan kejiwaan adalah :
1.    Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmani maupun rokhaninya.
2.    usaha mempertahankan diri dengan cara negatif, yaitu mundur atau lari, sehingga cara bertahan dirinya salah, Jadi bukan melarikan diri dari persoalan, tetapi melawan atau memecahkan persoalan.
3.    kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental, dapat banyak disebutkan antara lain sebagai
berikut :
1.    Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempuma; hal-hal tersebut sering menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkan kaedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
2.    Terjadinya konflik sosial budaya akibat norma berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat, sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi.
3.    Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadapkehidupan sosial: over acting sebagai overcompensatie.
Proses-proses kekalutan mental yang dialami oleh seseorang mendorongnya ke arah:
1.    Positif : trauma (luka jiwa) yang dialami dijawab secara baik sebagai usaha agar tetap survive dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajut waktu malam hari untuk memperoleh ketenangan dan mencari jalan keluar untuk mengatasi kesulitan yang dihadapinya, ataupun melakukan kegitan yang positif setelah kejatuhan dalam kehidupan.
2.    Negatif : trauma yang dialami diperlarutkan atau diperturutkan, sehingga yang bersangkutan mengalami frustasi,yaitu tekanan batin akibat tidak tercapainya apa yang diinginkan. Bentuk frustasi antara lain :
a)      agresi berupa kemarahan yang meluap-luap akibat emosi yang tidak terkendali dansecara fisik berakibat mudah terjadinya hypertensi (tekanan darah tinggi) atau tindakansadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya.
b)      regresi adalah kembali pada pola reaksi yang primitif atau kekanak-kanankan(infantil), misalnya dengan menjerit-jerit.
c)       fiksasi adalah peletakan atau pembatasan pada satu pola yang sama (tetap), misalnya dengan membisu dan  membentur-benturkan kepala pada benda keras.
d)      proyeksi merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negatif pada orang lain.
e)      identifikasi adalah menyamakan diri dengan seseorang yang sukses dalam imaginasinya, misalnya dalam kecantikan yang bersangkutan menyamakan diri dengan bintang film.
f)       narsisme adalah self love yang berlebihan, sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior daripada orang lain.
g)      autisme adalah gejala menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yang dapat menjurus ke sifat yang sinting.
  1. Hubungan Penderitaan dan Perjuangan
Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekuensi manusia hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia, melainkan juga menderita. Karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis, yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis, ia harus berusaha mengataasi kesulitan  hidup. Allah telah berfirman dalam surat Arra'du ayat l l. bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang kecuali orang itu sendiri yang berusaha merubahnya.  
Pembebasan dari penderitaan pada hakekatnya meneruskan kelangsungan hidup. Caranya ialah berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkungan, masyarakat sekitar, dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindar dari bahaya dan malapetaka. Manusia hanya merencanakan dan Tuhan yang mcnentukan. Kelalaian manusia merupakan sumber malapetaka yang menimbulkan penderitaan. Penderitaan yang terjadi selain dialami sendiri oleh yang bersangkutan, mungkin juga dialami oleh orang lain. Bahkan mungkin terjadi akibat perbuatan atau kelalaian seseorang, orang lain atau masyarakat menderita.
  1. Hubungan Penderitaan, Media Masa, dan Seniman
Media masa merupakan alat yang paling tepat untuk mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada masyarakt. Dengan demikian masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama manusia terutama bagi yang merasa simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni, sehingga para pembaca, penontonnya dapat menghayati penderitaan sekaligus keindahan karya seni. Sebagai contoh bagaimana penderitaan anak bemama Arie Hangara yang mati akibat siksaan orang tuanya sendiri yang difilmkan dengan judul "ArieHangara".
  1. Penderitaan dan sebab-sebabnya
secara sederhana penderitaan dapat dikelompokkan berdasarkan sebab-sebab timbulnya adalah sebagai berikut :
1.       Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia.
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
2.       Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan
Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit atau siksaan I azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal, dan optimisme dapat merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu
  1. Pengaruh Penderitaan
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalnya anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.
Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap positif biasanya kreatif dan tidak mudah menyerah.
Apabila sikap negatif dan sikap positif ini dikomunikasikan oleh para seniman kepada para pembaca, penonton, maka para pembaca, para penonton akan memberikan penilaiannya. Penilaian itu dapat berupa kemauan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan.



Referensi
Nugroho.Widyo, Muchji.Ahmad (1994). Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Gunadarma